Minggu, 14 Oktober 2012

PSIKOLINGUISTIK



A.     Pengertian Psikolinguistik
Kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri  sendiri, dengan prosedur dan metode yang berlainan. Tetapi keduanya meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Hany objek materilnya yang berbeda, linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku bahasa atau proses berbahasa.
Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh oleh manusia (Slobin, 1974; Meller, 1964; Slama Cazahu, 1973). Maka secara teoretis tujuan utama psikoliguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguisuk bisa diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya.
Kerja sama antara psikologi dan linguistik setelah beberapa lama berlangsung tampaknya belurn. cukup untuk dapat rnenerangkan hakikat bahasa seperti terermin dalam definisi di atas Bantuan dan ilmu-ilmu lain sangat diperlukan, seperti neurofisiologi, neuropsikologis, neurolinguistik dan sebagainya maka meskipun dagunakan istilah psikolinguistik bukan berarti hanya kedua bidang ilmu itu saja yang diterapkan LL tapi juga hasil penelitian dan almu-ilmu lain pun damanfaatkan.
B.     Tujuan Mempelajari Psikolinguistik
Secara teoritis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan psikologi  dapat menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya.
Dengan kata lain, psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa dan bagaimana struktur ini diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu. Dalam prakteknya psikolinguistik mencoba menerapkan pengetahuan linguistik dan psikologi pada masalah-masalah seperti pengajaran dan pembelajaran bahasa, pengajaran membaca permulaan dan membaca lanjut, kedwibahasaan dan kemultibahasaan, penyakit tutur seperti afasia, gagap, dan sebagainya; serta masalah sosial lain yang menyangkut bahasa, seperti bahasa dan pendidikan, bahasa dan pembangunan nusa dan bangsa.

C.     Sejarah Kelahiran Psikolinguistik
Nama psikolinguistik muncul pada tahun 1954 dalam buku Thomas  A. Sebeok dan Charles E. Osgood yang berjudul Psycholinguistics:  A Survey of Theory and Research Problems, namun sebenarnya sejak zaman Painini, ahli tata bahasa dari India, dan Sokrates ahli filasafat dari Yunani, pengkajian bahasa dan berbahasa telah dilakukan orang.
Pada abad  silam terdapat dua aliran filsafat yang saling bertentangan dan sangat mempengaruhi perkembangan linguistik dan psikologi. Yang pertama adalah aliran empiris yang etar kaitannya dengan psikologi asosiasi. Aliran empirisme melakukan kajian terhadap data empiris atau objek yang dapat diobservasi dengan cara menganalisis unsur-unsur pembentukan sampai yang sekecil-kecilnya. Oleh karena itu, aliran ini disebut bersifat atomistik, dan lazim dikaitkan dengan asosiasisme dan positivisme. Aliran kedua dikenal dengan nama rasionalisme. Aliran ini mengkaji akal sebagai satu keseluruhan dan menyatakan bahwa faktor-faktor yang ada dalam akal inilah yang patut diteliti untuk bisa memahami perilaku manusia itu. Oleh karena itu, aliran ini disebut bersifat holistik, dan biasa dikaitkan dengan paham nativisme, idealisme, dan mentalisme. Dari beberapa filsafat dan menimbulkan aliran-aliran yang membantu timbulnya psikolinguistik.

D.     Posisi Psikolinguistik dalam Kajian Linguistik
Menurut beberapa pakar linguistik, posisi psikolinguistik dapat disimpulkan dalam sangat perlu untuk digunakan karena mereka beranggapan segala sesuatu yang ada dalam bahasa itu pada dasarnya bersifat psikologis. Berikut pendapat yang dikemukakan oleh para pakar.
Von Humboldt (1767-1835), pakar linguistik berkebangsaan Jerman, telah mencoba mengkaji hubungan antara bahasa (linguistik) dengan pemikiran manusia (psikologi). Dia menganggap bahasa bukanlah sesuatu yang sudah siap untuk dipotong-potong dan dikiasifikasikan seperti aiiran empinisme. Menurnt Von Humboldtbahasa itu merupakan satu kegiatan yang merniliki prinsip-prinsip sendiri.
Ferdinand de Saussure (1858-1913, pakar linguistik berkebangsaan Swiss, telah berusaha menerangkan apa sebenarnya bahasa itu (linguistik), dan bagaimana keadaan bahasa itu di dalam otak (psikologi). kalau ingin mengkaji bahasa secara Iengkap, maka kedua disiplin, yakni linguistik dan psikologi harus digunakan. Hal ini dikatakannya karena dia beranggapan segala sesuatu yang ada dalam bahasa itü pada dasarnya bersifat psikologis.
E.      Pentingnya Psikolinguistik dalam Studi Linguistik
Menurut beberapa pakar, psikolinguistik dalam studi linguistik sangat penting digunakan. Karena berbahasa dimulai dari melahirkan pengalaman yang luar biasa, terutama sebagai penjelmaan dari adanya tekanan emosi yang sangat kuat. Dan itu semua bermula dari psikologi seseorang.
Leonard Bloomfield (1887-1949), pakar linguistik bangsa Amerika, dalam usahanya menganalisis bahasa telah dipengaruhi oleh dua aliran psikologi yang saling bertentangan, yaitu mentalisme dan behaviôrisme. Pada mulanya beliau menganalisis bahasa menurut prinsip-prinsip mèntalisme (yang sejalan dengan teori psikologi Wundt). Di sini beliau berpendapat bahwa berbahasa dimulai dan melahirkan pengalaman yang luar biasa, terutama sebagai penjelmaan dan adanya tekanan emosi yang sangat kuat. Jika melahirkan pengalaman dalarn bentuk bahasa ini karena adanya tekanan emosi yang sangat kuat, maka muncullah ucapan (kalimat) ekslamasi. Jika pengalaman ini lahir oleh keinginan berkomunikási: maka lahirlah ucapan (kalimat) dekiarasi. Jika keinginan berkomunikasi mi bertukar menjadi keinginan untuk mengetahui maka muncullah ucapan (kalimat) interogasi. Kemudian, sejak 1925, Bloomfield meninggalkan psikologi mentalisme Wundt, lalu menganut paham psikologi behaviorisme Watson dan Weiss. Beliau menerapkan teori psikologi behaviorisme dalam teon bahasanya yang kim dikenal sebagai “linguistik struktural” atau “Iinguistik taksonomi.
Wundt (1832-1920), ahli psikologi berkebangsaan Jerman, orang pertama yang mengembangkan secara sistematis teori mentalistik bahasa.  Menyatakan bahwa bahasa adalah alat untuk melahirkan pikiran Wundt berpendapat bahwa pada mulanya bahasa lahir dalam bentuk gerakgerik yang dipakai untuk melahirkan perasaan-perasaan yang sangat kuat secara tidak sadar. Lain terjadilah pertukaran antara komponen-komponen perasaan ini dengan komponen-komponen akal atau mentalisme.

F.      Tujuh Subdisiplin Psikolingiuistik
Psikolinguistik telah menjadi bidang ilmu yang sangat luas dan kompleks. Psikolinguistik telah berkembang pesat sehingga melahirkan beberapa subdisaplin psikolinguistik. Di antara subdisiplin psikolinguistik itu adalah beriküt.
1.        Psikolinguistik Teoretis
Subdisiplin ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses-proses mental manusia dalam berbahasa, misalnya dalam rancangan fonetik, rancangan pilihan kata, rancangan sintaksis, rancangan wacana, dan rancangan intonasi.
2.       Psikolinguistik Perkembangan
Subdisiplin ini berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama (B1) maupun pemerolehan bahasa kedua (B2). Subdisiplin ini mengkaji proses pemerolehan fonologi, proses pemerolehan semantik, dan proses pemerolehan sintaksis secara berjenjang, bertahap, dan terpadu.
3.       Psikolinguistik Sosial
Subdisiplin ini berkenaan dengan aspek-aspek sosial bahasa. Bagi suatu masyarakat bahasa, bahasa itu bukan hanya merupakan satu gejala dan identitas sosial saja, tetapi juga merupakan suatu ikatan batin dan nurani yang sukar ditinggalkan.
4.       Psikolinguistik Pendidikan
Subdisiplin ini mengkaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di sekolah. Umpamanya peranan bahasa dalam pengajaran membaca, pengajaran kemahiran berbahasa, dan pengetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa. dalam proses memperbaiki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan.
5.    Psikolinguistik-Neurolagi (Neuropsikolinguistik)
Subdisiplin ini mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa, dan otak manusia. Para pakar neurologi telah berhasil menganalisis struktur biologis otak, serta telah memberi nama pada bagian-bagian struktur otak itu. Namun, ada pertanyaan yang belum dijawab secara lengkap, yaitu apa yang terjadi dengan masukan bahasa dan bagaimana keluaran bahasa diprograrnkan dan dibentuk dalam otak itu.
6.       Psikolinguistik Eksperimen
Subdisiplin ini meliputi dan melakukan eksperimen dalam semua kegiatan bahasa dan berbahasa path satu pihak dan perilaku berbahasa dan akibat berbahasa path pihak lain,
7.        Psikolinguistik Terapan
Subdisipin ini berkaitan dengan penerapan dan temuan-temuan enam subdisiplin psikolinguistik di atas ke dalarn bidang-bidang tertentu yang rmemerlukannya. Yang termasuk subdisiplin ini ialah psikologi, lingiustik, pertuturan dan pemahaman, pembelajaran bahasa, pengajaran membaca neurologi, psikiatri, komunikasi, dan susastra.

G.     Fokus Kajian Psikolinguistik pada fakultas Pendidikan
Bahasa sebagai alat interaksi verbal, maka bahasa dapat dikaji secara internal dan eksternal. Secara internal kajian dilakukan terhadap struktur internal bahasa, itu mulai dari struktur fonologi, morfologi, sintaksis, sampai struktur wacana. Kajian secara eksternal berkaitan dengan faktor-faktor atau hal-hal yang ada di luar bahasa, seperti faktor sosial, psikoligi, etnis, seni dan sebagainya.
Psikolinguistik termasuk salah satu kajian bahasa bagian eksternal. Psikolinguistik adalah perpaduan antara ilmu psikologi dan linguistik. Yang mempunyai fokus kajian pada sisi-sisi manusia dari segi yang bisa diamati. Karena jiwa itu bersifat abstrak, sehingga  tidak dapat  diamati secara empiris, padahal objek kajian setiap ilmu harus dapat diobservasi secara indrawi.
H.     Pokok Bahasan Psikolingistik
Psikolinguistik merupakan gabuangan ilmu dari psikologi dan linguistik. Bahasan yang ada dalam psikolinguistik erat kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar bahasa. Dalam psikolinguistik membahas tentang bahasa sehingga mampu berbahasa. Membahas sejarah bahasa dan tempat bahasa di simpan, pemerolehan bahasa ibu tidak hanya itu psikolinguistik membahas proses penyusunan kalimat dengan mengetahui apa yang terjadi dalam otak ketika menyusun itu. Yang paling terpenting psikolinguistik membahas hubungan bahasa dengan pemikirann serta jiwa.
I.        Manfaat Mempelajari Psikolinguistik bagi Guru atau Calon Guru Bahasa Indonesia
Di dalam kurikulum pendidikan bahasa pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan mata kuliah proses belajar mengajar , dan bukan pada kelompok mata kuliah linguistik/kebahasaan, dan sangat erat kaitannya dengan belajar mengajar bahasa.  Maka dari itu jika dipandang dari segi manfaat. Begitu banyak manfaat psikolinguistik bagi calon guru maupun guru. Dapat mengetahui hubungan bahasa dengan jiwa untuk bekal mengajar. Psikologi siswa sangatlah penting diketahui guru untuk mempermudah proses mengajar.
  


1 komentar: