Rabu, 18 April 2012

Model Pembelajaran Menulis



MODEL PEMBELAJARAN BERBICARA

1.      Identifikasi Kalimat Topik
Setiap paragraf mengandung minimal dua unsure. Pertama ialah kalimat topic, kedua adalah kalimat pengembang. Posisi kalimat topic mungkin di bagian depan, di bagian akhir paragraf. Bahkan sekali-kali ditemukan juga kalimat topic di tengah-tengah paragraf.
Contoh 1
Guru                :











Siswa               :


Guru                :








Siswa               :


Guru                :
Dengarkan baik-baik rakaman paragraf berikut!
“Dengan mengandalkan pernafasan, meditasi serta tenaga inti, Melati Putih mampu menyerap dan memanfaatkan energy dalam. Selain untuk melindungi dari diri mara bahaya, juga untuk kekuatan tubuh, untuk kecantikan dan sebagainya. Bukan hanya itu. Melalui Melati Putih seseorang bias berkomunikasi dengan alam halus, dengan binatang serta tumbuhan. Penyembuhan segala penyakit juga bias dilakukan, walau dari jarak jauh tanpa media. Yang menarik, Melati Putih mampu mendatangkan roh. Ini tentu sangat bermanfaat untuk melacak pelaku pembunuhan yang belum tertangkap.” (kompas 24 Desember 2005)
(Menyimak isi rekaman, kemudian memilih kalimat topic)
“Melati Putih mampu menyerap dan memanfaatkan energy alam”.
Tepat! Bagus!
Kini simak lagi paragraf  lisan berikut. Apa kalimat topiknya?
“Kalor secara mutlak diperlukan manusia. Untuk menarik air, manusia perlu kalor. Untuk memasak air manusia perlu kalor. Makanan yang kita makan juga dinilai dari kalor yang dikandungnya. Kalor juga merupakan pengerak sekala sesuatu yang ada di sekitar kita. Mobil, motor, pesawat terbang, mesin-mesin dipabrik semua perlu kalor. Jelaslah bahwa kalor mutlak diperhatikan oleh manusia.
(Menyimak paragraph lisan lebih cepat. Akhirnya mereka dapat menemukan bahwa kalimat topiknya adalah)
“Kalor secara mutlak diperlukan manusia”.
Luar biasa! Tepat sekali. Bagus.


2.      Menyingkat atau Merangkum
Menyimak bahan simakan yang agak panjang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu antara cara tersebut ialah melalui penyingkatan. Menyingkat atau merangkum berarti merangkum bahan yang panjang menjadi sedikit mungkin. Namun yang sedikit itu dapat mewakili atau menjelaskan yang panjang.
Contoh menyingkat atau merangkum adalah sebagai berikut:
Guru                :









Siswa               :





Guru               :
Simak rekaman berikut baik-baik!
Judul : Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Indonesia
Dalam usaha menjaga kelestarian sumber daya hayati agar tidak punah adalah dengan cara menjaga keutuhan lingkungan tempat hidup makhluk hidup. Sebab sia-sia jika kita hanya melestarikan mahluk hidup, diisi lain lingkungan dan habitatmahluk hidup mengalami kerusakan. Karena lingkungan merupakan pendukung kehidupan setiap makhluk hidup.
(Menyimak rekaman dengan penuh perhatian.Hasil rangkuman mereka sebagai berikut)
“Usaha pelestarian sumber daya hayati terdiri dari pemerintah dan seluruh komponen masyarakat”.
“Sumber daya hayati tidak akan punah apabila kita semua dapat menjaga keutuhan lingkungan tempat hdup makhluk hidup. Karena lingkungan merupakan pendukung kehidupan setiap makhluknya”.
Bagus! Rupanya kalian sudah pintar-pintar.




3.      Menyambung Cerita
Menyelesaikan Cerita Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok beranggotakan 3 – 4 orang. Guru memanggil anggota kelompok pertama, misalnya kelompok 1, ke depan kelas. Kelompok tersebut disuruh bercerita, judulnya bebas atau boleh juga ditentukan oleh guru.
Contoh                       
Guru                :






Edi                  :
                       

Guru












Guru                :

Bagja               :


Guru             :





Sueb             :



Guru             :

Sekarang kita akan menyusun suatu cerita. Judulnya masih rahasia. Cerita ini akan disusun oleh empat kelompok. Bagian demi bagian akan ditampilkan di depan kelas. Setiap orang selalu siap melanjutkan cerita..Mari kita mulai. Langsung saja(Bapak guru menunjuk salah satu muridnya), Edi.. kedepan!
Maju kedepan. Apa yang harus saya ceritakan, Pak?
Bebas, apa saja boleh.
Hari pertama liburan, aku berkunjung ke rumah nenekmakan banyak dan bercerita bersama dalam keadaan hujan. Aku tertawa saat cerita …
Bagus sekali, Edi! Silahkan duduk. Cerita akan dilanjutkan oleh Bagja.
Maju ke depan, mendehem-dehem sebentar lalu melirik kepada guru.
Ayo, lanjutkan cerita tadi, Bagja!
Kura-kura yang mandi lumur. Badanya kotor sambil senggol-sengol, kemudian nenek berhenti berbicara karena ada suara aneh..

Bagus, bagus! Bagja boleh duduk. Cerita akan dilanjutkan oleh Agus.
Maju kedepan.( Kebingungan, tidak tahu apa yang harus diceritakan karena dari tadi tidak menyimak).
Ini suatu peringatan bagi orang yang melalaikan tugas. Agus duduk kembali! Pengganti Zulfi.
Aku sudah bergemetar karena takut tiba-tiba, nenek menghampiri asal suara itu. Nenek terkejut dan aku yang dibelakang nenek ketakutan setengah mati. Anehnya aku ….
Bagus, bagus sekali Bagja. Sekarang bagian akhir cerita cukup dalam satu kalimat, katakanlah sebagai kesimpulan. Coba Sueb maju ke depan.
Maju ke depan. (Berpikir keras)
Jangan terlalu dipikirkan. Cukup ambil kesimpulan saja. Ayo Sueb!
Kencing di celana, nenek tertawa ketika melihatku tanpak aneh
Masalah aku kencing aku rahasiakan. Tapi nenek tau dan tertawa terbahak-bahak. Karena aku takut oleh suara kucing yang tertimpa kayu besar di belakang rumah.
Bagus! Bagus! Dengan demikian lengkaplah sudah ceita kita. Sangat luar biasa.(sambil mengacungkan jempol kepada murid muridnya).

4.      Ulang Ucap
Model ucapan yang dipendengarkan dipersiapkan dengan cermat oleh guru. Isi model ucapan dapat berupa foem, kata, kalimat, ungkapan, kata-kata mutiara, semboyan dan puisi-puisi pendek. Model itu dapat dapat dibacakan atau berupa rekaman. Model ini disimak dan ditiru oleh siswa. Cara pelaksanaannya sebagai berikut:

a.      Fonem
Guru                : /a/,/i/,/u/,/e/,/o/
Siswa               :  /a/,/i/,/u/,/e/,/o/
Guru                :  /l/,/r/
Siswa               : /l/,/r/
b.      Kata
Guru                : Khusyu
Siswa               : Khusyu
Guru                : Khas
Siswa               : Khas

5.      Model Pembelajaran Bermain Peran
Model Pembelajaran Bermain Peran merupakan salah satu sub bagian dari Model Pembelajaran Berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sub bagian yang lain dari model pembelajaran Berbicara yaitu : Ulang Ucap, Lihat Ucapkan, Memerikan, Menjawab Pertanyaan, Bertanya, Reka Cerita Gambar, Melanjutkan Cerita, Menceritakan Kembali, Bercerita dan Parafrase.
Model pembelajaran Bermain Peran merupakan pembelajaran terakhir pada model pembelajaran Berbicara. Dengan demikian maka dikandung pengertian bahwa model pembelajaran ini sebagai tataran tertinggi dalam model pembelajaran Berbicara. Jika dalam model pembelajaran berbicara sebelumnya masih terdapat campur tangan guru, maka dalam Bermain Peran ini sudah hampir 100% murni dari inisiatif, spontanitas dan pemikiran peserta didik. Dalam praktiknya Bermain Peran ini menyerupai sandiwara atau drama, hanya saja dalam bentuk yang lebih kecil/sederhana. Maka peserta didik akan memperoleh peran dan teks dialog yang harus dihafalkan untuk  ditampilkan di depan kelas nanti.
Salah satu contoh langkah-langkah pembelajarannya, sebagai berikut :
  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
  2. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok beranggotakan 3-4 siswa.
  3. Guru menyiapkan scenario/naskah  dengan tema cerita yang menarik.
  4. Ketua kelompok membagi peran masing-masing sesuai yang terdapat dalam scenario. Guru pun dapat memegang salah satu peran apabila dirasakan memang perlu.
  5. Tiap-tiap pemain menghapalkan dialog dalam scenario.
  6. Guru menunjuk salah satu kelompok yang sudah benar-benar siap untuk menampilkan naskah pementasan.
  7. Demikian seterusnya sampai seluruh kelompok tampil.
  8. Evaluasi, meliputi lafal,intonasi,ekspresi, penghayatan dan penampilan.
  9. Kesimpulan.
Kemampuan membuat desain pembelajaran merupakan fokus kompetensi yang harus Bapak/Ibu kuasai sebagai seorang guru yang benar-benar profesional. Alasannya, kemampuan mendesain pembelajaran sangat berkaitan langsung dengan pelaksanaan tugas Bapak/Ibu di lapangan sebagai pemegang kendali proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas.
Tidak ada metode pembelajaran Berbicara yang sempurna, maka seorang Guru dituntut untuk mampu memilah dan memilih serta menentukan media dan metode yang paling relevan dengan tujuan dan situasi yang dihadapinya di kelas.
Demikianlah, mudah-mudahan postingan ini dapat menambah khasanah pembelajaran bahasa Indonesia kita sehingga pembelajaran bahasa Indonesia yang dirancang Bapak/Ibu Guru dapat lebih bervariatif, lebih bermakna, menantang sekaligus menyenangkan


REFERENSI
Depdikbud. 1985. Berbicara dan Pengajarannya. Jakarta: Universitas Terbuka.
Kamijan dan Suyono. 2002. Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Pelajaran Berbicara. Jakarta: Depdiknas.
Nurhadi dan Agus Gerald Senduk. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapan Dalam KBK. Malang: Universitas Malang.
Subyakto N., Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta:Depdikbud.
Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya:SIC.
Tarigan, Henry Guntur. 1983. Berbicara Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Underwood, Mary. 1989. Teaching Listening. London: Longman.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar